8 Agustus 2011

Cane alias Prata tanpa Panik

Entah kenapa, mungkin lidah kangen aja dengan rasa Cane alias Roti Prata itu. Tapi itu minggu yang lalu. Sayang, untung lagi tak berpihak pada diri ini. Ketika lagi pingin banget ngerasain, maka aku hajar aja semua bahan, ngikutin rumus Roti Prata dari bu Syanti di blog nya.

Walhasil, yang jadi malah Bolu Bakar deh hihihi. Kalau ditanya kenapa, karena yang namanya 'panik' itu memang seringkali gak baik!

Panik di atas itu maksudnya demikian; hari sudah sore, mau keluar rumah untuk membeli males banget. Sementara lidahku pingin segera merasakan nikmatnya. Plus, hari minggu lalu itu jelas-jelas malam pertama Ramadhan. Komplit, kan.

Jadi, dalam kepanikan itu, muncul nih ide super kreatif tapi konyol: membuat sendiri roti cane. Browsing sebentar, cling, ketemu resepnya. Ringkasnya, beli tepung di warung. Dilanjut dengan membuat adonan sore itu juga, dengan pikiran bahwa malamnya, selesai taraweh sudah bisa dinikmati.

Oh ternyata aku salah. Adonan yang tadinya sudah kalis itu hancur begitu aku tambahkan margarin, dengan jumlah yang jelas: kebanyakan. Hahaha.

Ditambah margarin, maksudnya untuk meningkatkan nilai gizi dan menggantikan minyak sapi. Karena seingatku, mamihe ya menggunakan margarin. Rupanya, margarin itu seharusnya dilelehkan terlebih dahulu dengan jumlah yang jauh lebih sedikit. o la la. Sukses deh aku menghancurkan adonan.

Kadung hancur, setelah selesai taraweh, itu adonan ditambahkan margarin lagi, telur dan gula. Proses mengadon dipindah ke mixer, maka siap deh adonan untuk bolu. Tambahan sedikit aroma pisang susu dari sirop membuatnya lebih menarik yiihaaaa. Mari kita bakar di dalam oven.

Nah, kemarin aku mengulang pelajaran minggu lalu. Niat banget belajarnya. Dari pagi bahan sudah disiapkan semua. Termasuk konfirmasi ke mamihe tentang mengolahnya supaya jangan sampe gagal lagi :D

Bikinnya sih sedikit aja. Alasannya ya karena sudah puasa. Cane pula dibuat sebagai cemilan setelah berbuka. Tentunya sekaligus belajar lagi dong ah. Siapa juga yang bakalan ngabisin ntar?

Aku sendiri tidak terlalu berkenan untuk berbuka puasa dengan banyak makanan. Biasanya, cukup kurma dan sedikit air, lalu maghriban, kemudian disusul dengan makan malam. Lebih pas aja buatku.

Makanan berbuka yang beraneka itu biasanya hanya aku jadikan cemilan setelah malam lewat seperti saat menulis celoteh ini hihihi. Pengecualian pada kasus khusus, misalkan menghadiri acara buka bersama atau semacam itulah.

Singkat cerita, cane buatan sendiri kali ini sukses. Hanya komen kurang garam aja dari istri tercinta. Nah itu sih komen standard, karena aku juga gak suka sin-a-sin. Uhuk. O, ya susu tepung dan susu kental manis pada resep itu diganti dengan susu cair saja olehku. Dan sudah barang tentu, margarin yang sudah dilelehkan menjadi pengganti minyak sapi dari resep aslinya.

Satu hal yang pasti, sukses kali ini gak pake bumbu tambahan: Panik. Apapun arti kata itu.

1 komentar:

DenSinyo mengatakan...

mantap bisa jadi teladan ni..laki ga sungkan ke dapur sendiri :-D

Poskan Komentar