30 November 2010

Kenikir, cara lain mengolahnya

Cukup lama sekali aku tidak menulis tentang resep masakan. Mungkin ini waktu yang tepat untuk memulai kembali. Karena tadi baru selesai membuat tumis kenikir buat Mira—yang ngakunya si cantik dan penuh cinta. Heu!

Berawal dari obrolan iseng tentang apotek hidup di sekitar rumah demi memaksimalkan fungsi lahan sambil mengenalkan jagoan tentang bercocok tanam. Ketika tumbuhan bernama kenikir disebut, Ia minta untuk dibawakan, karena kangen dengan tumbuhan itu, hihihi. Mulanya aku bersikukuh untuk membawakannya dalam bentuk mentah saja, sebagaimana lazimnya tumbuhan ini diambil manfaatnya, yaitu dengan cara dijadikan lalap. Meski pengolahan lain seperti direbus, di buat urap dan ditumis juga kerap ditemukan.

Aku tidak perlu khawatir untuk langsung melalapnya bila ingin. Apotek hidup dibelakang rumah, tidak menggunakan zat kimia, baik itu sebagai pupuk sebagai penyubur apalagi pestisida pembasmi hama. Pupuk organik yang digunakan untuk menanam hanyalah hasil olahan sampah organik dari dapur dan sekitar lahan yang dikomposkan berkala secara tak langsung dengan cara menguburnya pada lubang sampah. Sedangkan pembasmi hama, cukup sudah dengan burung-burung yang merendah dan mampir menikmati ulat-ulat atau serangga yang doyan merusak daun. Tapi kekeuh, si cantik minta di olah dulu. Baiklah, neng! Mari...

Kenikir

Kenikir merupakan tanaman yang multi fungsi. Ia dapat dijadikan sebagai sayur, pengusir hama tanaman (serangga pada umumnya), penambah nafsu makan, juga merupakan penangkal dan obat alami dari beragam penyakit. Sebuah riset ilmiah terakhir dari Univeritas Muhammadiyah Surakarta mencatat bahwa kenikir merupakan salah satu pemacu proses apoptosis—kematian sel terprogram—sel kanker, namun belum jelas (diteliti dan) disebutkan senyawa aktif apa yang berpotensi sebagai antikanker pada tanaman ini.

Sedikit catatan, kenikir yang aku maksud memiliki nama latin spesies Cosmos caudatus Kunth. bukan kenikir lainnya yang memiliki nama latin spesies Tagetes erecta L. Kedua tumbuhan tersebut dikenal dengan nama yang sama dalam kumpulan artikel tentang tanaman obat publikasi departemen kesehatan (kini Kementerian Kesehatan.) Untuk mengenal perbedaannya, silakan merujuk pada berkas 1-087 dan 1-280 yang bisa diperoleh dari situs cermin Kambing Universitas Indonesia.

kenikir, tumis

Tumis Kenikir

Bahan dan bumbu:

  • 200 gram daun kenikir, bersihkan
  • 1 buah tomat, bersihkan
  • 1 buku jari jahe, kupas dan bersihkan
  • 5 siung bawah putih, bersihkan
  • 5 butir bawah merah, bersihkan
  • 10 buah cabai rawit, bersihkan
  • 3 buah cabai merah, bersihkan
  • garam, gula pasir, merica bubuk secukupnya
  • 2 sendok makan minyak
  • air matang secukupnya

Cara membuat:
  • rajang atau iris tebal bawang dan cabai
  • keprak jahe
  • tomat dipotong melintang, menjadi 4 atau 8 bagian
  • panaskan minyak, tumis jahe, bawang, cabai hingga harum
  • tambahkan air matang, gula, garam, merica bubuk sesuai selera
  • masukkan daun kenikir dan tomat. tumis hingga layu dengan api kecil, jangan biarkan berubah warna menjadi gelap (kecoklatan).
  • siap dihidangkan

Catatan
  • kombinasi bumbu di atas akan membuat tumisan terasa pedas, sesuaikan jumlah cabai dengan selera.
  • cukup untuk 4 hingga 6 porsi.

Selamat mencoba!

Rujukan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar