13 Juni 2010

Hong Kong SAR dan Shenzhen, China. Bagian Ketiga

Deng Xiaoping pada tahun enam puluhan pernah berkata: "saya tak perduli, apakah itu kucing hitam atau kucing putih, asalkan bisa menangkap tikus, itu adalah kucing yang bagus." Itu merupakan pepatah dari negeri berjuluk "tirai bambu" yang kemudian menjadi populer dirujuk sebagai sebuah ide yang memajukan negeri Deng dalam hal ekonomi sebagaimana kita saksikan sekarang. Makna sebenarnya dalam kalimat Deng adalah bahwa ia tak begitu mempersoalkan apakah itu komunis atau kapitalis, selama dapat memajukan—mungkin juga berarti mengeluarkan negerinya dari keterpurukan—ekonomi, maka ideologi itu dapat diterapkan. Dalam topik khusus di awal reformasi dan keterbukaan ekonomi negeri cina selama dibawah kepemimpinannya, Deng memiliki tujuan akhir yang diringkas sebagai "empat modernisasi" yaitu pada bidang pertanian, industri, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta bidang militer.

Hari Ketiga, 21 Mei 2010

Aku sendiri bukan pengamat, apalagi pakar dalam hal ekonomi. Paragraf pembuka tadi mungkin sudah cukup memberikan gambaran kemana tujuan perjalananku hari ini. Benar, bila anda langsung mengingat Shenzhen. Sebuah kota di bagian tenggara Republik Rakyat Cina yang berbatasan langsung dengan Hong Kong. Kota yang secara administratif berada dibawah propinsi Guangdong ini, secara tak langsung "berhutang" pada Deng, karena sejak tahun delapan puluhan Shenzhen ditetapkan—kini dianggap yang paling sukses—sebagai sebuah kawasan ekonomi khusus.

Lebih sedikit dari pukul enam pagi, setelah mengisi ulang penuh dua botol air minum, aku segera bergegas keluar dari kamar, kemudian turun ke lantai dasar menggunakan lift. Pagi hari, suasana di kota ini belum begitu ramai. Koran pagi yang boleh diambil gratis, namun sayang beraksara kanji, menumpuk di beberapa emperan di mana terdapat pedagang kaki lima. Wajah-wajah yang tampak segar dan juga dipaksa untuk kelihatan segar menemani perjalanan singkatku menuju stasiun kereta terdekat, Causeway Bay.

Setibanya di stasiun, aku menuju bagian pelayanan pelanggan untuk mendapatkan penjelasan tentang status pengecualian Tourist Day Pass yang aku beli sebelumnya. Kesimpulan: seharusnya aku langsung membeli sebuah Octopus Card untuk kemudahan seluruh perjalanan sejak awal aku tiba. Nasi sudah jadi bubur, eh tapi, buburnya masih bisa dimakan. Maka sebelum genap 24 jam, dalam perjalanan menuju beberapa stasiun hingga Sheung Shui yang merupakan bagian dari East Rail Line, kecuali Lo Wu, aku tetap bisa menggunakan Tourist Day Pass. Setelahnya aku akan menggunakan tiket regular bernama Octopus Card yang baru saja kuperoleh seharga HKD 150.

Hampir pukul delapan pagi dalam zona waktu HKT, aku harus menunggu lebih satu jam lagi untuk mendapatkan visa memasuki negeri Deng. Waktu-waktu penantian hingga selesai pengurusan visa, aku isi dengan membaca Merbau Menggapai Mimpi karya Unggul Wirawan yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia. Catatan pagi itu: bila anda belum memiliki visa cina daratan, dan berniat memasuki Shenzhen dari Hong Kong melalui Lo Wu, jangan berangkat terlalu pagi seperti aku, hehehe. Tapi jangan pula sampai kesiangan, kabarnya antrian di sini bisa sangat panjang pada waktu-waktu tertentu. Pengurusan Visa on Arrival dibuka mulai pukul sembilan pagi, dengan biaya sebesar RMB 160. Yap aku tidak salah ketik, hanya mata uang Ren Min Bi yang diterima. Jangan lupa mengambil nomor antrian, ya!

Sepuluh jam berikutnya yang aku habiskan di Shenzhen tak banyak meninggalkan cerita. Lagi-lagi rasanya aku cukup memberikan referensi, The Engadget Show: Inside the gadget markets of China, part two - Shenzhen publikasi April 2010 sangat gamblang menggambarkan apa yang aku lihat. Bila perlu tambahan, silakan baca juga A visit to the electronics markets of Shenzhen publikasi Maret 2009 dari situs Evil Mad Scientist Laboratories.

Cerita tentang transportasi, dari banyak informasi yang aku kumpulkan, menggunakan Shenzhen Metro dalam keadaan normal merupakan pilihan yang paling aman dan nyaman bagi turis. Anda disarankan menyiapkan sejumlah pecahan RMB 5 untuk memperoleh tiket single journey berupa koin atau token yang menggunakan teknologi RFID berwarna hijau lumut. Alternatif lainnya anda dapat memperoleh tiket bernama Shenzhen Tong yang mirip dengan Octopus Card pada system MTR Hong Kong, atau EZ-Link Smart Cards di MRT Singapur.

Shenzhen Tong dapat diperoleh dengan harga RMB 25 dari Shenzhen Tong Customer Service Center yang berada di dalam stasiun metro Shenzhen. Silakan tanya pada penjaga stasiun yang berseragam hitam-hitam itu bila anda bingung, tapi sebagian dari mereka hanya akan menunjukkan arah saja tanpa berkata apapun pada anda. Aku rasa karena mereka tak berbicara bahasa anda, tapi mereka "sedikit paham" apa yang anda tanyakan. Tapi aku tak membelinya karena berniat melakukan banyak perjalanan. Tarif awal untuk yang berlaku untuk setiap melewati 3 stasiun adalah RMB 2 (Wikipedia mencatat tarifnya RMB 2 - 5 relatif terhadap jarak), bila anda berhenti pada stasiun selanjutnya—setelah melewati 3 stasiun—anda dikenakan tarif tambahan RMB 1. Mengambil contoh perjalanan dari Luo Hu ke Hua Qiang Lu, maka tarifnya adalah RMB 3. Lebih jauh dari itu, aku belum mencobanya, hehehe.

Kekurangan terbesar pada jaringan Shenzhen Metro yang aku sempat amati adalah sangat terbatasnya petunjuk arah dalam bahasa Inggris. Tidak sebatas di stasiun, mencari petunjuk arah dalam bahasa yang aku pahami di luar stasiun juga sama sulitnya. So, seperti di Indonesia, disana benar-benar berlaku hukum "malu bertanya ya jalan-jalan!" Serius, aku nggak bohong. Peta-peta besar di dalam stasiun juga lebih banyak beraksara kanji, doh! Satu sisi lagi, anda dengan mudah menemukan mereka yang menikmati makanan atau minum didalam kereta, meski sudah ditempel banyak tanda larangan terkait hal itu.

Selama "perburuan" di Shenzhen, mengelilingi Louhu Commercial City di Luo Hu, SEG Plaza tempat dimana SEG Electronic Market berada, juga beberapa pusat perbelanjaan lain termasuk sejumlah exclusive shop di sekitarnya terasa sangat melelahkan. Tidak hanya secara fisik, kendala bahasa yang membuat komunikasi tidak terlalu lancar juga menyita cukup banyak waktu. Aku sendiri banyak menggunakan Google Translate untuk dapat menyampaikan serta menangkap setiap informasi yang dipertukarkan. Tentu saja tidak demikian halnya bila pramuniaga di toko yang disambangi dapat berbahasa Inggris dengan lancar. Tapi kelemahan lain yang timbul adalah kadang-kadang salah tangkap pada beberapa kata yang mereka sampaikan karena masalah logat, nah dalam hal ini maka coretan di atas kertas begitu sangat membantu. Sayang, pencarian perangkat elektronik—orisinil maupun produk lokal serupa sebagai alternatif pilihan—lagi-lagi tak membuahkan hasil.

Soal makanan, meski aku sudah mempersiapkan beberapa catatan tempat-tempat dimana dapat memperoleh makanan halal, ah aku tak sedikitpun berkesempatan menikmati sajian disini. Apel yang sudah dipersiapkan kemarin malam menjadi pilihan paling praktis untuk makan siang dan malam selama hampir seharian aku di sana. Sedikit informasi bagi muslim, berbeda dengan Hong Kong yang banyak memiliki taman atau ruang terbuka yang nyaman, di Shenzhen, lebih spesifik ke tempat-tempat yang sudah ku jejaki, cenderung lebih sulit menemukan tempat yang cukup layak untuk mendirikan sholat.

Catatan penutup dari perjalanku ke Shenzhen adalah; meski sama-sama berjudul China Mobile, kartu GSM dari China Mobile Hong Kong tidak dapat digunakan di Shenzhen, bahkan sejak anda memasuki cross border area di Lo Wu. Untuk mendapatkan kartu GSM lokal, harganya RMB 100, dua kali lebih mahal dari pada di Hong Kong yang hanya HKD 50. Tidak berhenti pada paket perdana, biaya komunikasi ke Indonesia juga terhitung mahal bila dibandingkan dengan Hong Kong. Tapi tentu jelas jauh lebih murah dari pada anda memanfaatkan fitur internasional roaming dengan kartu GSM dari tanah air.

Hampir pukul delapan malam, belum puas "berkeliling" Shenzhen, hujan disertai angin mengguyur Shenzhen yang tak kalah begemerlap malam itu. Sedikit berbasah namun tak ria, aku berlari menuju stasiun kereta Huaqiang Lu. Tujuan akhir: pulang ke Hong Kong melalui Luo Hu. Bersambung...

1 komentar:

Alumni Biologi GadjahMada 78 mengatakan...

Mas Firman berapa kita harus membayar untuk memperoleh visa shenzen dari hongkong?
Terima kasih

munif.hassan@gmail.com

Poskan Komentar