2 Agustus 2011

Pada tiga titik nol

Lima tahun yang lalu, aku tentu sedang mengganggu pekerjaan para kuncen di kantor ini. Bagaimana tidak, target pertama aku ikutan nongkrong disini adalah menyulap beberapa sistem yang sudah digunakan hampir dua tahun sebelumnya untuk dapat digunakan menampung peningkatan beban kerja.

OOT sedikit, aku tiba-tiba teringat, dua bulan sebelumnya aku sempat bertanya pada Pat tentang kapan kemungkinan Slackware, distribusi linux tertua yang aku kenal itu, akan tersedia untuk versi 64bit. Saat itu, dari uraian panjang surel balasannya, Pat menutup dengan kalimat "It's still in the early planning stages."

Oh, well, dengan penegasan itu, meski sedikit bersedih, aku mau tidak mau harus beralih. Alasannya sederhana, aku bertemu dengan perangkat keras yang sudah memiliki kemampuan itu. Ya meski tak perlu sepenuh hati. Hanya pindah distro saja, bukan pindah kepercayaan ;-)

Bukan tak mau menggunakan apalagi sampai tak percaya pada kemampuan Linux PAE, ringkas kata, mengadopsi langsung masa depan pada saat ini juga aku pikir tak ada ruginya. Bukan begitu? Cieeeh. Petualangan demi petualangan pun dimulai.

Aku harus kembali akrab dengan distribusi GNU/Linux dari vendor RedHat, begitu pula turunannya. Loh, kembali? Yup. RedHat 6.0 adalah distro pertama yang aku kenal. Meringkas beberapa paragraf, akhirnya beberapa sistem aku injeksi dengan Fedora dan CentOS. Demikian pula halnya aliran darah menuju saraf otakku yang mesti aku sinkronkan juga. Welcome back to RPM world.

Aku rasa cukup pembuka yang bertele-tele diatas. Dan ya, bila dirimu tiba-tiba bertanya aku ingin berbagi tentang apa sih? Jawabannya adalah: begitu banyak kisah bila aku mampu menguntai kata. Sayangnya tidak pula demikian. Jari ini sedang tak begitu selaras dengan kepalaku yang sedang nyut-nyut-an menemani flu ringan sejak dua hari lalu. Maka bila kemudian dirimu mendapati tulisan ini melantur kemana-mana, ya nikmati saja. Jangan berisik, apalagi bersisik :P

Perjalanan selama versi dua titik nol itu sungguh menghadiahi banyak pengalaman yang buat aku memperkaya. Bertemu langsung atau tidak dengan orang-orang itu punya efek. Sedikitnya, disadari atau tidak, secara langsung atau tidak, ikut membentuk pola pikir baru dikepala ini. Karena secara psikologis memang demikian pula hukumnya. Sebagian dari diri kita dibentuk oleh lingkungan sosial dan budaya dimana kita berada. Dan merugilah bila mendapati dirimu tidak belajar dari lingkunganmu. Sebab selalu ada sisi positifnya, kok. *berkhotbah mumpung ramadhan*

Cerita lainnya, aku cenderung menikmati saja tiap-tiap bagian dan suasana di kantor ini. Karena memang beberapa kali mesti pindah. Walaupun tak selalunya aku ikuti. Eh ya, kalau enggak cocok, kenapa harus selalu berkata "Ya." Aku akui, perubahan ruang dan suasana itu ada efek positifnya. Tapi ada juga sisi negatifnya. Salah satu sisi negatif itu adalah capek! Dan kalau sudah lelah —fisik apalagi pikiran— mimpi sajalah mau produktif. Sorry to say, meski ada OB, gak tega juga liat mereka harus angkut-angkut mesin (baca: komputer/server) which is itu kerjaanku. Lho, dirimu bertanya kenapa mesti diangkut? Ruang server itu dingin booooow. Matikan dong AC nya! *emmm, glek*

Ngasih gambaran sedikit, peliharaanku kini ada di lantai dua gedung belakang. Jadi, aku tentunya males banget kalo harus pindah ke lantai dua gedung depan. Setidaknya akan ada usaha untuk menurunkan sebuah mesin di gedung belakang, lalu menaikkan, instalasi atau sekedar diobok-obok, kemudian menurunkan dan menaikkan lagi. Kebayang kalo mesinnya seperti titipan customer yang se gede gaban. Haduh, bisa dong ngurangin repotnya sedikit. Yang otomatis ngurangin waktu yang terbuang untuk hal gak penting seperti itu?

Nah, satu lagi, bukan semata soal capek naik turun tangga, tambah lagi gak nyaman karena ruangannya ya cuma "segitu" dan mesti dipakai keroyokan. Jadi wajar dong dang, kalo aku bilang enggak mau. Toh masih ada tempat lain yang lebih pas. O, ya aku akan selalu berusaha berpikir dan memandang dengan detil. Aku tidak dibayar untuk jadi robot, kan?*bersiul, membela diri*

Eh, seriusnya, di ruangan sekarang ini nyaman kok. Biarin deh ada yang suka nyanyi juga, anggap aja pengamen yang gak perlu receh. Hihihi *siap di timpuk ama tetangga belakang*

Pindah ke topik lain, selama pendidikan dalam perjalanan dua titik nol itu, aku sudah bisa macam-macam dong. Salah satunya ngancurin harddisk *evil grin*. Bukan apa-apa sih, kebanyakan pekerjaanku ada di belakang layar. Judulnya benchmark. mengukur performa gitu lah.

Nah, kalau sudah dimulai, satu sesinya bisa berjalan hitungan menit, yang paling lama hitungan hari. Jadi desktop yang aku pakai ini sudah nasibnya jarang mati. Begitu mati, berdoa aja gak ada hubungannya dengan hard disk. Hahahaha. Eh, aku baru dapat hibah desktop baru, loh. Ruang untuk hard disknya lebih luas, jadi gak terlalu rapat dan tidak kepanasan harusnya. *joged joged*

Oh, ya. Sampai sekarang, aku juga masih berpikir untuk selalu belajar—dan cenderung lebih giat—ketika aku dibayar. Nah lho. Penjelasan kalimat itu, lebih panjang secara sengaja beberapa waktu lalu aku temui di tulisan Vavai. Tapi memang pada dasarnya begitu. Dulu ya dibayarin orang tua. Kemudian dibayarin diri sendiri. Sekarang dibayarin perusahaan. Dan aku akan selalu belajar. Seninya otodidak itu adalah: Gak ada yang ngomel-ngomel. Paling banter nanti ada yang menggerutu: Kok pakai lama, ya? Hihihi.

Selain suka, tentu ada duka. Mereka ini berpasangan. Gak mau pisah sepertinya. Jadi ayo kita nikmati juga. Senangnya sudah dapat banyak ilmu, itu pasti dong. Tapi yang lebih penting adalah sudah bisa mengaplikasikan ilmu itu sendiri. Sedihnya, salah satunya mesti berpisah dengan beberapa kolega yang kemudian ingin berjuang di tempat lain. Dan aku sepertinya belum begitu siap untuk mengikuti jejak mereka. Meski beberapa peluang sudah mampir. Semoga sukses selalu, buat mereka. Duka lainnya adalah kok udah lima tahun ini belum nemu orang yang pas untuk di transfer tenaga dalam. Halah.

Semakin panjang. Dan malam semakin larut. Sepertinya aku harus menghentikan ocehan ini sampai disini saja dulu. Apapun ceritanya, semua itu proses belajar. Mudah-mudahan waktu kedepan lebih bermanfaat. Karena aku tetap berpikir bahwa tak ada ilmu yang lebih bermanfaat bila hanya segelintir orang saja yang merasakan manfaatnya.

Dan pada siklus lima tahunan, aku kini berada di tiga titik nol, kebetulan saja, seperti kernel Linux yang baru saja dirilis pada akhir bulan lalu oleh Torvalds punya versi 3.0.0. Jadi harapannya, gak muluk-muluk, agar kantor yang telah mendanai proses belajarku ini lebih maju. Ayo belajar lebih giat.

1 komentar:

jawadwipa mengatakan...

jadi. apa rencanamu untuk menu tajil sore ini?

Poskan Komentar